PENYEMBUHAN BATIN DALAM TIDUR

Posted by Doa Kristiani Friday, March 8, 2013 0 komentar
Tuhan Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus hadirlah pada masa laluku sementara aku tidur. Sembuhkanlah segala luka dalam batinku yang pernah kualami, luka karena kurang kasih dari orang tua dan sesama, luka karena pengkhianatan, luka karena penolakan, luka karena karena pelecehan, luka karena penghinaan. Biarlah darahMu Kau jadikan aku utuh kembali. Semua hubungan persaudaraan yang sudah rusak dengan keluargaku maupun dengan saudaraku dan teman-teman, sembuhkanlah ya Tuhan Yesus. Dari segala ketakutan, kecemasan, kegelisahan, keputusasaan, sembuhkanlah aku.

Hadirlah Engkau ya Tuhan Yesus supaya aku bisa mengampuni diriku sendiri, mengampuni sesamaku, mengampuni situasi yang menyakitkan. Bantulah aku ya Tuhan Yesus supaya aku dapat mengambil akar pahit yang ada dalam hidupku dan isilah hatiku dengan kasihMu dalam tidurku malam ini. Terimakasih Tuhan Yesus Kristus dan berkatilah aku. Amin.

TUHAN MENANTI
Tuhan, aku datang pada-Mu. Aku tahu,Engkau menunggu aku datang. Engkau gembira,Engkau pandang aku penuh kasih. hasrat-Mu membebaskan aku dari belenggu-belenggu. Tiliklah aku, kenalilah pikiranku. Lihatlah, langkah hidupku. Tuntunlah aku dijalan yang kekal. Lihatlah, aku disini. Amin.

DOA
"Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong." (Mazmur 34:16) "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya."(ayat18) "Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya." (1 Yoh 5:14-15) "? Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yak 5:16) "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22) "? tetapi doa orang jujur dikenanNya." (Ams 15:8) "? tetapi doa orang benar didengarNya." (ayat 29) "sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang tulus, dan tidak memandang hina doa mereka." (Mzr 102:18)

DOA TOBAT
Tuhan yang maha rahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Oleh sebab itu patut aku Engkau hukum, terutama sebab aku telah menghina Engkau yang maha murah dan maha baik bagiku. Aku benci akan dosa-dosaku dan berjanji dengan pertolangan rahmatMu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Ya Allah, ampunilah aku orang berdosa.

DOA IMAN
Allah, Tuhanku, aku percaya bahwa Engkau satu Allah tiga diri: Bapa, Putera, dan Roh Kudus; bahwa Allah Putera menjadi manusia untuk kami dan wafat disalib, bahwa Engkau membalas yang baik dan menghukum yang jahat. Aku percaya akan semuanya yang telah Kau wahyukan dan Kau ajarkan dengan perantaraan Gereja Kudus. Aku percaya dengan teguh akan semuanya itu sebab Engkaulah yang mengatakannya, Yang Mahatahu dan Mahabenar. Tuhan, tambahlah imanku.

MOHON KEHENDAK YANG KUAT
Ya Tuhan, alangkah senangnya kalau boleh memiliki kehendak yang kuat! Aku teringat akan orang-orang dalam sejarah yang memiliki kemauan keras membaja. Mereka terus berusaha membangun dunia ini, meski menghadapi seribu satu kesulitan dan tantangan yang datang bertubi-tubi. Terutama aku teringat akan orang-orang yang dengan gagah melaksanakan kehendakMu; akan para pelajar yang sunggguh-sungguh, dan setia menjalankan tugas-tugasnya, karena ingin menyenangkan Dikau; akan para pekerja yang bersusah payah sepanjang tahun, karena menyadari kewajibannya; akan para martir yang pantang menyerah biarpun dipaksa denagn siksaan atau aniaya. Tuhan Yesus Kristus, aku teringat akan kehendakMu sendiri yang tetap kuat dan teguh, biar dalam sengsara dan penghinaan sekalipun. Terpujilah Engkau, ya Allahku. Alangkah nikmatnya dapat mengatakan: aku mau ? Seluruh dunia mungkin runtuh hancur berantakan, namun tiada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan batu karang kehendak yang bebas dan pasti. Tetapi aku juga takut kalau berlagak terlampau berani. Sebab hanya yang rendah hati berkenan kepadaMu. Oleh karena itu, ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku kemauan yang kuat, dan sekaligi sikap yang lembut lagi kesatria. Amin.

DOA PENGHARAPAN
Tuhan yang mahamurah, karena jasa Yesus Kristus, aku mengharapkan menerima dari-Mu: kebahagiaan kekal serta rahmat yang perlu untuk menerimanya. Aku mengharapkan semua itu dengan pengharapan yang kokoh, sebab yang berjanji adalah Engkau, Tuhan yang mahakuasa, mahamurah untukku dan setia pada janjiMu. Tuhan kuatkanlah pengharapanku. Amin
Read More..

Kisah Nyata Jusmin yang Jatuh dari Ketinggian 10 Meter

Posted by Doa Kristiani 1 komentar
Tanggal 16 Mei 2000 adalah hari yang patut kami rayakan sebagai mahasiswa/i, karena ujian semester di kampus baru saja berakhir. Kelegaan meliputi hati kami, karena salah satu beban hidup telah terangkat.
Perkenalkan nama saya Dewi. Waktu itu aku sedang mengobrol santai dengan teman, ketika tiba-tiba terdengar  suara mengagetkan yang sangat keras. Karena penasaran, kami langsung menuju sumber timbulnya suara.
Aku sangat terkejut melihat seorang pria yang jatuh kesakitan, dengan tulang tumit yang menonjol keluar. Pria itu adalah Liau Jusmin, calon suamiku. Kontan saja, aku menjerit histeris.
Aku dan seorang teman mengiringi keberangkatan Jusmin ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Jusmin harus segera dioperasi, karena pendarahannya sangat banyak, bukan hanya di tubuhnya tetapi juga di otaknya. Sayangnya, pengesahan surat ijin operasi membutuhkan tanda tangan anggota keluarga Jusmin, sedangkan dia tidak memiliki siapa-siapa di kota ini. Ibunya ada di luar kota.
Saat aku—sebagai pacarnya—menawarkan diri untuk menandatangan, suster menolak.
Jusmin jatuh di STT IMAN, tempat kami berkuliah. Saat itu dia sedang mengambil jemuran di tingkat atas asrama yang tingginya sekitar 10 meter dari tanah. Jusmin jatuh dengan posisi lutut menyentuh tanah dan terjerembab. Sehabis itu, dahinya tersungkur ke ubin.
Di rumah sakit, aku merasa panik dan tidak tahu harus berbuat apa, karena jika tidak ditangani secepatnya, Jusmin bisa meninggal dunia.
Tiba-tiba sesosok pria tak dikenal berjalan ke arah tempat dudukku dan berkata, "Anda teman dekat Jusmin? Saya dosennya Jusmin, dan saya juga bekerja di sini." Lalu dia berpaling kepada suster, "Biar saya yang menjamin, Suster." Puji Tuhan, aku bisa sedikit bernafas lega sekarang.
Kamar operasi disibukkan dengan para dokter dan perawat. Waktu berlalu. Tak terasa sudah 24 jam aku menunggu. Begitu dokter mengeluarkan batang hidungnya, aku langsung menyambar.
"Kecelakaan ini melibatkan syaraf otaknya. Jadi, apapun bisa terjadi," ujar dokter.
"Maksudnya, Dok?" tanyaku kebingungan.
"Jusmin bisa saja mengalami hilang ingatan, bahakn cacat mental," sambungnya.
Badanku lemas.
Entah kenapa, ada seorang anak duduk di kursi roda yang sedang lewat di situ. Tanpa kutanya, dokter berujar, "Lihat, anak ini memiliki kasus yang sama. Sekitar satu tahun dia bisa sembuh."
Meskipun Jusmin sudah menempuh operasi, hati kecilku masih tak tenang. Aku selalu teringat akan perkataan dokter yang terakhir itu. Ternyata ada resiko yang berat pasca-operasi.
Lalu dokter memberi kesempatan agar aku masuk ke ruang operasi. Dengan suara tersendat dan perlahan, kulihat Jusmin berkata, "Mama .. mama…"
Astaga! Kenapa cara Jusmin berbicara seperti anak kecil begini?!
Dokter pun menjelaskan bahwa tingkat kesadarannya menurun.
Melihat tingkah lakunya yang menjadi berbeda, aku sedih. Dia melakukan hal aneh, ditambah lagi rasa sakit yang ia derita. Kadang dia memukul dan memaki orang yang sedang menjaga dia. Kadang dia menangis histeris seperti seorang anak kecil. Hal yang paling menyedihkan adalah melihat orang yang kita sayangi menderita luar biasa tetapi kita tidak bisa melakukan apapun. Rasanya bagaikan ingin berlari dan memeluk dia, tetapi tidak bisa kesampaian. Jika aku punya kesempatan untuk bisa berbagi penderitaan, aku ingin mengalami apa yang dia alami, karena aku sungguh tidak tahan melihatnya. Berapa lama Jusmin harus menderita seperti ini? Dan bagaimana masa depannya nanti? Dunia seolah runtuh. Bahkan Tuhan pun tak bisa mendengar seruanku minta tolong.
-Tiga minggu pasca operasi-
Suatu ketika Jusmin mengerang kesakitan, tetapi dia tidak lagi bertingkah seperti anak kecil. Rasa sakit yang Jusmin derita adalah seperti ada logam besi yang menggorok kepalanya. Lututnya terasa ngilu.
"Apa yang terjadi?" tanya Jusmin.
"Apa kamu tidak ingat?" kataku.
"Yang kuingat terakhir kali… aku sedang mengambil jemuran."
"Syukurlah kamu sadar."
Jusmin merasa dirinya bagai orang cacat. Kepalanya gundul, harus memakai kacamata. Banyak orang menganggap dirinya makhluk aneh. Jusmin ditinggalkan ibunya, yang harus pulang ke Kalimantan. Orang yang dikasihinya tidak bisa berada di sisinya. Jusmin berprinsip, lebih baik dia membantu orang daripada dirinya yang dibantu. "Saya merasa tidak berdaya. Lalu untuk apa saya hidup kalau begini keadaannya?" ungkap Jusmin dengan sedih.
Jusmin tidak lagi memikirkan hubungannya denganku. Dia rasa dirinya tidak layak lagi menjadi suamiku.
Niat Jusmin adalah pulang kampung, karena dengan demikian dia bisa dirawat oleh keluarganya. Baginya, inilah waktunya untuk mengubur semua harapan, cita-cita, dan impian yang ingin ia kejar. Tak mungkin ia menjadi manusia normal kembali.
"Tapi, daripada menderita terus seperti ini, bukankah lebih baik bunuh diri?" ungkap Jusmin. Namun Jusmin menyadari bahwa bunuh diri itu adalah dosa. Jusmin akhirnya mengetahui bahwa ia tidak bisa lari ke mana-mana. Hanya kepada Tuhan-lah dia harus berlari, baru dia akan mendapat kekuatan.
Di tengah kekalutan, Jusmin mencoba meraih Alkitab dan membacanya. Ia menemukan ayat di Yakobus pasal satu, yang berbunyi, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (ayat 2-3)
Perlahan-lahan, Jusmin melihat karya Tuhan yang luar biasa. Tuhan seakan menunjukkan kilas balik: mulai dari saat Jusmin jatuh, ada teman yang menolong membawa ke rumah sakit, lalu ada dosen yang dipakai Tuhan untuk menjamin operasinya, dan juga dokter yang disediakan untuk merawatnya. Jusmin menyadari bahwa keberadaan tiap-tiap orang tersebut adalah cara Tuhan menolong Jusmin. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, saat Jusmin butuh bantuan, teman-temannya selalu siap menolong. Bahwa Tuhan masih menyediakan pertolongan, menjadi dorongan bagi Jusmin untuk bangkit.
Aku melihat ada secercah harapan dalam diri Jusmin sekarang. Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Doaku terjawab. Proses kesembuhan yang menurut medis membutuhkan waktu setahun, nyatanya tidak berlaku bagi Jusmin. Dalam kurun waktu empat bulan Jusmin telah melepas tongkatnya. Dia berjalan dan beraktivitas seperti biasa.
"Dalam pandangan manusia, kita menemukan banyak prediksi negatif. Tetapi dalam Tuhan justru Ia mengubahkan itu menjadi sesuatu yang indah," kata Jusmin.
"Saya mengalami hal yang berat tetapi saya tahu bahwa setiap persoalan yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita. Apalagi, Tuhan Yesus Kristus memberikan bukan hanya kekuatan, tetapi juga jaminan keselamatan dan kemenangan bersama dengan Dia. Kita tidak boleh menyerah terhadap apapun juga."
Petaka diubah menjadi sukacita di dalam tangan Tuhan. Cara Ia bekerja sungguh dahsyat dan ajaib. Jusmin hanya bisa bersyukur akan semua yang telah ia hadapi.


Sumber Kesaksian:
Liau Jusmin dan Dewi (istri Jusmin)


Read More..

Kisah Nyata Ola dan Rahasia Masa Lalu Ibunya

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Hidup dengan disiplin dan begitu banyak peraturan didalam keluarganya membuat Ola merasa dirinya hidup bukan dengan orangtua kandungnya. Kecurigaan Ola bertambah setelah seorang teman prianya memberitahukan bahwa ada gossip dari tetangga bahwa dirinya adalah anak angkat dari keluarga Ibu Tuty Sofyanni, keluarga yang selama ini merawat dirinya.
Ibu Tuty Sofyanni dan suaminya pun mencari alasan agar Ola dipindahkan ke sebuah asrama di Surabaya untuk menghindari kenyataan bahwa Ola adalah benar anak yang diangkat karena Ibu Tuty Sofyanni dan suaminya belum bisa mendapatkan keturunan. Ola pun segera pindah ke Surabaya.
Namun teman pria Ola segera menyusul ke Surabaya dan memberitahukan bahwa di kota itu banyak terdapat saudara-saudara ibu kandungnya. Hal ini semakin meyakinkan diri Ola bahwa dirinya adalah anak angkat dan kini saatnya mencari ibu kandungnya sendiri. Namun seiring berjalannya waktu hubungan Ola dan teman prianya berlangsung begitu jauh hingga menyebabkan Ola mengandung.
Ibu Tuty Sofyanni yang mengetahui kehamilan Ola segera memanggil dirinya dan teman pria Ola. Saat itulah Ibu Tuty Sofyanni menceritakan mengenai dirinya yang belum bisa memiliki anak (mandul) dan memberikan Ola sebuah surat pengasuhan asuh tentang dirinya. Saat itu juga Ibu Tuty Sofyanni menyuruh Ola untuk pergi dan mengurus hidupnya sendiri.
"Sudah memang kamu bukan anak saya. Kamu atur hidup kamu sendiri, saya nggak mau tahu. Saya gagal mendidik dia. Kesalahan Ola itu adalah kesalahan saya, karena dia kurang mendapatkan kasih, karena dia kurang diperhatikan. Itu terus menuduh saya dan saya minta ampun pada Tuhan," ungkap Ibu Tuty Sofyanni.
Namun Ola pun merasa bersalah atas apa yang telah terjadi didalam dirinya dan juga kepada orang tua angkatnya. "Saya menyesal juga. Saya tahu mama sangat kecewa. Disitu saya merasa kehilangan orangtua saya. Saya merasa sangat kesepian," kata Ola.
Mulanya Ibu Tuty Sofyanni hampir mau melupakan Ola. Namun dukungan dari temannya yang mengajak Ibu Tuty untuk mengasihi dan mengampuni Ola, membuat dirinya tergerak dan memilih untuk mengampuni Ola. "Dalam kesendirian saya, saya menangis dan bertobat. Dan timbul disitu saya ingin memeluk dia (Ola)," kata Ibu Tuty.
Akhirnya Ibu Tuty dan suaminya menjenguk Ola yang saat itu tengah berada di rumah sakit usai melahirkan. "Saya merasa itu meukjizat. Suatau keajaiban. Melihat mama datang memeluk saya dan menangis. Saya sangat bahagia. Yang tadinya tidak ada didalam pikiran saya, atau mengharapakan karena sembilan bulan saya tidak pernah bersentuhan secara langsung dengan Mama secara langsung," ujar Ola.
Ola mengungkapkan bahwa kedatangan mamanya begitu menyentuh dirinya dan disaat itu pula dirinya merasa dikasihi oleh sang ibu. "Anaknya perempuan, dan itu mirip sekali dengan si Ola waktu saya ambil dia," ungkap Ibu Tuty menceritakan mengenai cucunya.
Didalam pengampunan dan kasih yang terjalin diantara dirinya dan ibunya, Ola merasakan Tuhan telah mengembalikan apa yang hilang didalam kehidupan Ola. Begitupun dengan Ibu Tuty yang merasakan bahwa pertolongan Tuhan begitu memampukan dirinya yang secara luar biasa mau menerima keadaan Ola dan mau mengampuni. Hidup keluarga mereka dipulihkan secara sempurna.


Read More..

Kisah Nyata Dada Suhada: Tukar Nyawa Anak dengan Uang

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Di suatu pagi yang cerah, aku bersama istri dan kedua anakku hendak pergi berjalan-jalan. Tiba-tiba putraku memohon, "Ayah, aku mau es krim."
Aku hanya terdiam memandangi dia.
Untuk kedua kalinya si kecil berkata, "Aku mau es krim, Yah!"
Ah, seandainya aku bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada putraku ini.
Karena tak satupun kata-kata keluar dari mulutku, istriku menanggapi permohonan anak kami, "Ya sudah, es krimnya diganti dulu dengan permen ini ya. Kan, sama-sama manis."
Nama saya Dada Suhada. Panggil saja saya Suhada. Reputasi saya di depan keluarga besar sudah merosot. Itu disebabkan oleh kebiasaanku yang suka mabuk-mabukan.
Beberapa anggota kelurga dengan teganya suka mengatakan bahwa aku sudah mati. "Anggap saja Suhada itu sudah meninggal," demikian perkataan salah seorang sanak saudara, yang pernah kudengar. Mendengar perkataan seperti demikian, saya merasa sangat sakit hati.
Selain itu, kemiskinan yang terus mendera hidupku membuat aku bosan. Aku bosan jadi orang miskin. Bayangkan, ketika salah satu saudaraku berulang tahun, anak kami tidak diundang. Apa karena anakku tidak mampu membeli kado? Hmm, mungkin saja. Jangankan membeli kado; membeli beras pun kami tidak sanggup. Memang beginilah nasib jadi orang miskin! Aku sangat lelah menjalaninya.
Suatu ketika, seorang teman menawariku untuk mengikuti "tips menjadi kaya" yang dia praktekkan, yakni, menggunakan ilmu. "Gue baru aja dapat proyek Rp 20 juta, men, karena gue pakai barang ini," katanya bersemangat. "Barang yang ia maksud adalah jimat.
Sepertinya jimat ini merupakan penolong yang memang dipersiapkan bagiku. Buktinya, usahaku lancar sentosa setelah memakai jimat. Aku membuka usaha di bidang sepatu, dengan pendapatan yang menjanjikan. Senangnya hatiku menikmati rupiah demi rupiah yang kini kugenggam setiap hari.
"Udah jadi orang kaya, ya, elo?!" sapa temanku, yang telah memberikan nasihat tentang jimat sakti tersebut.
"Iya donk, kan ini berkat elo juga."
"Elo mau engga, lebih kaya lagi?"
Waw, siapa sih yang akan menolak tawaran untuk jadi makin kaya? Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini. Katanya, kalau aku datang pesugihan, aku bisa memperoleh modal besar.
Perlahan-lahan aku mempersiapkan semua sesajen dan mahar yang dibutuhkan. Sesajen dan mahar adalah sarana agar aku bisa berhubungan dengan arwah-arwah. Dengan demikian, nantinya aku bisa kaya.
Sesajen dan mahar itu memerlukan banyak biaya. Jadi, aku mengumpulkan uang dari mengambil keuntungan usaha dan menipu orangtua. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus kukeluarkan. Yang penting, aku bisa menjadi semakin kaya!
Aku pun pergi ke dukun yang akan memberi kekayaan berlimpah. Semua sesajen dan mahar telah kuserahkan, hanya saja dia tiba-tiba berkata, "Untuk memperoleh kekayaan ini, harus ada tumbalnya." Bagiku, tidak masalah kalau nyawaku menjadi tumbalnya. Aku rela menjadikan nyawaku sebagai taruhannya, asal kekayaan itu bisa kudapatkan.
Aku menuruti perintah apapun yang harus kukerjakan. Aku tidur 7 hari 7 malam di sebuah makam di Karang Nini. Di situ, saya mendapatkan suatu mimpi.
Begini mimpinya:
Aku sedang berjalan di tengah ruangan yang tak aku ketahui. Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang dan berjubah putih datang dan berkata, "Hai." 
Aku tak mengenal siapa dia, tetapi aku langsung berkata, "Aku bosan menjadi orang miskin! Aku ingin menjadi orang kaya!"
"Aku akan memberimu kekayaan, tetapi aku minta anakmu yang pertama untuk menjadi tumbalnya," jawab wanita itu.
"Tidak!" jawabku.
Aku terbangun. Aku menjerit-jerit, tidak menginginkan anakku menjadi tumbal. Yang kuinginkan adalah, diriku sendiri yang menjadi tumbalnya.
Dukun yang di sampingku berkata, "Tapi.. kamu akan mendapatkan apapun yang kau mau!"
"Saya tidak mau! Saya tidak mau anak saya menjadi tumbal!" aku dorong dukun itu, bangkit berdiri, lalu pergi dari hadapannya. Aku bingung. Kekayaan yang ingin kukejar justru akan kuberikan untuk anak, bukan untukku.
Kesedihan meliputi diriku. Aku pergi dari pesugihan itu. Aku berlari dan terus berlari. Apa maksud semua ini? Walaupun aku memang bukan bapak yang baik, tetapi anakku adalah kesayanganku. Untuk alasan apapun, aku tidak ingin dia menjadi tumbal.
Sekarang semua menjadi berantakan. Usaha menjadi bangkrut, karena aku sering meninggalkannya. Hutang menumpuk, sementara kekayaan yang diimpi-impikan malah tak datang.
Aku pulang menemui istriku. Dia betul-betul kecewa. Dia bertanya-tanya kepada Tuhan, apa sebetulnya kesalahan yang ia perbuat sampai kehidupan kami menjadi seperti ini.
Kemudian anakku yang perempuan datang. Katanya, dia harus membayar SPP (uang sekolah) besok; jika tidak, ia tidak bisa mengikuti ujian. Ah, ada-ada saja masalah.
Aku semakin terpuruk. Minuman keras adalah caraku melarikan diri dari keruwetan ini.
Istriku stress melihat kelakuanku. "Pak, kalau Bapak begini terus, lebih baik saya pulang ke rumah orangtua saya di Garut!" katanya.
Putriku juga tidak menyukaiku, "Bapak enggak sayang sama aku. Aku malu, Pak, karena teman-teman sering mengataiku. Mereka bilang bahwa aku anak pemabuk."
Istriku sudah kalang kabut. Dia tidak sanggup lagi menasihatiku. Akhirnya dia mendatangkan adikku untuk menasihatiku.
Ya, aku mau bertobat! Aku mau berhenti minum minuman keras. Aku sedih dengan keadaan seperti ini. Tapi aku tidak tahu harus minta bantuan kepada siapa.
"Kak, kalau kita berusaha untuk lepas dengan kekuatan sendiri, pasti mustahil. Tapi kalau Tuhan Yesus yang melakukannya, pasti bisa, Kak," kata adikku.
Dosaku sudah melewati batas. Apa mungkin aku masih bisa bertobat?
"Adik, apa benar kalau kita bertobat, maka dosa-dosa kita bisa diampuni?"
"Ya, itu sudah pasti, Kak. Sebesar apapun dosa Kakak, Tuhan mau mengampuninya. Apakah Kakak mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?"
"Ya, saya mau."
Kini, Tuhan Yesus sudah mengampuni dosaku dan masuk ke dalam hatiku. Adikku menantang, "Kak, sekarang apakah Kakak mau mengampuni orang-orang yang sudah menyakiti Kakak?"
Kontan saja langsung tampak bayangan saudaraku yang pernah mengatakan, "Anggap saja Suhada itu sudah meninggal." Muncul pula bayangan sanak saudara lain yang pernah tidak mengundang anakku ke pesta ulang tahun anaknya. Itu semua adalah hal-hal menyakitkan yang pernah kuterima. Tapi aku menerima tantangan ini: aku mau mengampuni mereka.
Kini aku memulai usahaku dengan sudut pandang yang baru. Keluarga, anak-anak, dan sahabat mendukung aku sehingga hutangku berangsur-angsur lunas. Aku kembali menekuni bisnis sepatu yang dulu pernah kudirikan. Puji Tuhan, Yesus memberkati kerja kerasku.
Dulu aku berambisi memperoleh kekayaan. Tetapi sekarang, aku dengan tegas mau mengatakan bahwa kekayaan dan kenikmatan dunia tidak ada artinya dibandingkan dengan kebahagiaan yang sekarang aku rasakan setelah mengenal Tuhan Yesus.
Kakak dan istriku telah bersaksi, bahwa hidupku berubah semenjak aku mengenal Tuhan Yesus. Hubunganku dengan sanak keluarga menjadi akrab, dan kini mereka merangkulku. Walaupun ada beberapa orang yang menolak keputusanku, tetapi karena mereka melihat perubahan yang Tuhan kerjakan dalam diriku, akhirnya mereka menerima juga.
Tuhan itu luar biasa. Dia membimbing aku meskipun aku sudah hancur begitu rupa.
Sumber Kesaksian:
Dada Suhada


Read More..

Kisah Nyata Pengusaha Sukses Dari Keluarga Miskin

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Kehidupan Paulus Mulyadi yang kini menjadi pengusaha sukses ternyata diawali oleh masa kecil yang begitu sulit. Bahkan hanya untuk makan siang saja, Paulus kecil harus rela menjual perabotan rumah seperti seprai, yang hasil penjualannya nanti akan digunakan untuk membeli makanan seperti tempe dan tahu di pinggir jalan.


Kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya membuat Paulus kecil harus rela membantu sang orang tua untuk berjualan. Timbul rasa malu juga rasa iri terhadap teman-temannya yang dapat bermain, sementara dirinya di usia yang relatif muda harus keliling berjualan. Untuk mendapatkan uang jajan, Paulus kecil mendapatkannya dari hasil penjualan kelereng yang dimenangkannya dalam permainan dengan teman-teman.


Meskipun dirinya dan keluarganya pindah ke Jakarta untuk mencoba peruntungan mendapatkan perekonomian yang layak, namun kehidupan mereka tetap tidak beubah. Keluarga Paulus tinggal dirumah neneknya yang berjualan makanan. Disitu Paulus membantu usaha sang nenek dengan mencuci piring dan menghidangkan makanan. Tidak berhenti disitu Paulus juga harus berkeliling menjual kue yang dibuat oleh sang ibu ke toko-toko dan warung makanan.


Depresi karena rutinitas kehidupan dan masa depannya yang dianggap suram, Paulus sempat ingin melarikan diri dari rumahnya. Namun niatnya tersebut tidak terlaksana karena seorang pendeta yang berada didekat rumahnya menahan dan memberikan pengertian agar Paulus tidak melakukan hal nekat itu. "Lalu dia (pendeta) bujuk saya, akhirnya saya masuk lagi kedalam rumah. Lalu saya diajak berdoa, dan waktu berdoa itulah saya disadarkan Tuhan, oh iya ya saya tidak boleh seperti itu. Itulah titik balik saya," kata Paulus.


Memasuki masa kuliah, Paulus pun tetap berjuang untuk berdagang, dengan keliling menawarkan panci kepada warga sekitar. Namun kegagalan demi kegagalan terus dialaminya. Namun seorang bapak menyemangatinya dan mengajak Paulus untuk ikut berdagang dengan caranya. Ketika cara sang bapak berhasil, munculah semangat dan Paulus untuk fokus dalam dagangannya.


Kegetiran hidup yang dijalani dengan penuh semangat, kerja keras, mental baja, doa dan harapan, membuat Tuhan mengangat kehidupan Paulus usaha bisnisnya yang dirintis mulai dari nol. "Tanpa saya sadar, saya jadi salesman itu dari kecil ternyata. Door to door itu jadi bagian saya dari kecil. Baru sekarang saya lihat, baru sekarang saya beryukur pada Tuhan, kalau saya itu punya mental baja dan nggak malu, dan itu ternyata merupakan proses dalam kehidupan saya. Saya bersyukur Tuhan memproses saya sedemikian rupa, sehingga sekarang saya tahan banting," ungkapnya.


"Sampai hari ini Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan saya. Dan saya ada, perusahaan ini ada, karena pertolongan Tuhan Yesus. Tanpa pertolongan Tuhan Yesus saya ini tidak punya apa-apa. Gak punya lah, apa sih yang bisa dibanggakan? Gak ada yang bisa dibanggakan. Saya bisa saya banggakan adalah Tuhan Yesus dibelakang semua ini," tutup Paulus mensyukuri karya Tuhan Yesus dalam hidupnya.





Read More..

Kesaksian, Longsor Merenggut Nyawa Suami dan Dua Anakku

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Malam itu, tanggal 30 Januari 2000, kota Manado diguyur hujan lebat. Seperti mendapat firasat buruk, malam itu Nitha Naomi tidak bisa tidur. 
"Saya gelisah, memang tidak bisa tidur sama sekali. Pikiran saya itu ngga tenang. Kemudian saya duduk berdoa," demikian Nitha bertutur.
Dalam doanya, Nitha menyerahkan seluruh hidupnya dan kekuatirannya kepada Tuhan. Saat selesai berdoa dan hendak kembali tidur terdengar suara guruh yang amat keras. Bersamaan dengan suara gemuruh itu, tiba-tiba tanah menerjang ke dalam kamar tidur dimana Nitha bersama kedua anaknya dan sang suami sedang tidur. 
Longsor Merenggut Nyawa Suami dan Dua Anakku"Saya sudah ngga dengar suara suami saya, anak saya yang kedua, Jerry pas kena longsoran dia sempat nangis. Pas nangis itu barangkali buka mulut, suaranya seperti mulut yang kemasukan tanah," ungkap Nitha sambil meneteskan air mata. 
Saat suara Jerry semakin menghilang, anak pertama Nitha, Nelly berseru, "Ma.. kaki Nelly kejepit.. kaki Nelly kejepit.." Walau dalam kesakitan, Nelly masih sempat menanyakan keadaan adik dan ayahnya, sayangnya Nelly tidak bisa bertahan lama. 
"Ma..air ma..air.." teriak Nelly, kemudian suaranya tak terdengar lagi. Nitha saat itu menyadari bahwa suami dan kedua anaknya telah tewas dalam timbunan longsor. Ia pun telah kehilangan harapan akan selamat dari bencana yang datang tiba-tiba itu. 
"Lalu saya berdoa: Tuhan saya menerima keadaan kalau mereka sudah tidak ada. Mereka sudah Tuhan panggil. Tapi tolong jangan siksa saya, kalau Tuhan mau menyelamatkan saya, tolong selamatkan saya. Kalau Tuhan mau panggil saya seperti mereka, tolong panggil mereka, tapi jangan disiksa lagi.."
Tetapi Tuhan masih memiliki rencana untuk Nitha, pertolongan datang sekitar pukul 5 pagi. 
"Saat itu ada petugas dengan pakaian loreng-loreng ijo turun.." 
Nitha pun segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, namun naasnya, kedua anaknya dan sang suami tidak terselamatkan lagi. 
"Ternyata Tuhan masih sayang sama saya sehingga saya masih diberi kesempatan untuk hidup sampai sekarang," ungkap Nitha penuh syukur. 
Walau kehilangan seluruh anggota keluarganya, namun Nitha menyadari bahwa jika dirinya hidup Tuhan memiliki rencana atas hidupnya yang harus digenapi. Kini Nitha menghabiskan hari-harinya dengan menolong anak-anak tuna netra. 
"Saya masuk Tan Miyat (sekolah tuna netra-red) ini karena dikasih tahu oleh kakak saya, bahwa disini dibutuhkan pengasuh, pada waktu itu Desember 2000."
Nitha mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus disekolah itu, dan ia pun dikenal oleh anak-anak disana sebagai seorang yang penuh kasih dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. 
"Saya yang merasa tidak ada kesempatan lagi untuk bangkit, ternyata masih ada. Itu semua saya syukuri, karena saya yakin itu semua adalah kebesaran Tuhan kepada saya."
Dalam segala perkara, Tuhan punya rencana. Untuk itu jangan pernah kecewa terhadap Tuhan atau menjadi putus asa ketika pencobaan ia ijikan terjadi dalam kehidupan. Percayalah, bahwa pencobaan-pencobaan itu tidak pernah melebihi kekuatan kita.
Nara sumber : Nitha Naomi
Read More..

Kisah Nyata Betco : Pria Playboy yang Suka Meniduri Wanita

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Namaku Betco Parulian Simarmata. Sejak kecil aku diperlakukan sangat keras oleh ayahku. Kesalahan sedikit saja ku buat akan menjadi bencana bagi diriku.
Satu kali, di saat aku sedang tidur, ayah tiba-tiba datang ke kamar dan membangunkanku dengan cara yang menurut aku sangatlah kasar. Aku pun terkaget-kaget dibangunkan seperti itu. Sakit hati muncul di dalamku. Sejak hari itu hubunganku pun dengan ayah menjadi sangat tidak enak.
Kisah Nyata Betco : Pria Playboy yang Suka Meniduri WanitaMasuk masa SMA adalah masa-masa dimana aku mengawali gaya hidup yang begitu buruk. Di sini, aku berkenalan dengan teman-teman yang nantinya akan mengajariku hal-hal buruk.   
Minum minuman keras dan narkoba kudapatkan lewat teman-teman SMA-ku. Awalnya aku ragu mencoba yang mereka tawarkan. Namun, setelah barang-barang haram tersebut masuk ke dalam diriku, aku justru merasakan sesuatu yang nikmat, yang membawaku seperti layaknya di surga.
Seiring berjalannya waktu, minuman keras dan narkoba yang ku konsumsi membuatku menjadi seorang yang berani. Aku pun di saat yang sama menjadi seorang yang penasaran dengan seks.
Meski aku sangat ingin melakukan hubungan badan, tetapi barulah pada saat mahasiswa aku mewujudkannya. Bukan wanita, bukan pria, yang menjadi pasangan awalku melainkan adalah seorang banci.
Mulai dari situ, aku pun semakin berhasrat melakukan making love lagi dan lagi. Sasaranku pun bukan banci, tetapi perempuan. Dengan rayuan maut yang kumiliki aku pun berhasil mendapatkan gadis-gadis yang kuingini, bukan hanya hatinya tetapi juga tubuhnya.
Tidak ada perasaan sedih di hatiku ketika memutuskan hubungan dengan perempuan-perempuan yang kutiduri. Justru aku merasa macho karena bisa ML dengan banyak kaum hawa.
Pertobatanku
Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti kelakuanku tetaplah tidak berubah. Aku terus mencari wanita untuk kujadikan sebagai pemuas nafsu liarku. Sampai suatu saat. Ketika aku berada di rumah orang tua ku, aku menonton sebuah tayangan film mengeni Yesus.
Karena aku sudah pernah menonton sebelumnya, jadi aku teruskan saja menonton film ini. Namun, entah mengapa tayangan kali ini justru menarik perhatianku begitu dalam. Diri ku pun begitu menjadi gelisah mana kala menonton bagian dimana Yesus dicambuk, memikul salib, dipaku, dan tubuh-Nya akhirnya disalibkan.
Ingatanku pun seperti ditarik ke belakang. Aku melihat dosa-dosa yang pernah ku lakukan, hubungan seks sebelum menikah, mengonsumsi minuman keras dan narkoba, serta banyak hal jahat lainnya. Tanpa ada satu pun orang di sana, sebuah keputusan untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan jurus selamat aku lakukan di malam itu. Kelegaan pun aku dapatkan setelah itu – suatu kelegaan dari beban-beban dosa yang selama ini mengikatku.
Kehidupan Baru
Peristiwa pertobatanku di malam yang baru kulewati begitu sangat kuat mempengaruhiku. Satu tindakan besar pun ku ambil sebagai langkah kehidupan baruku yakni memutuskan pacarku saat itu.
Meski aku tahu ia begitu kecewa berat, tapi aku meyakini itulah jalan terbaik yang harus dilakukan.  
Bertemu Wenny
Setelah lama tidak berpacaran lagi - karena saat itu aku fokus melayani Tuhan di gereja di mana aku bertumbuh - Tuhan mempertemukanku dengan seorang gadis cantik bernama Wenny Anastasia.
Dimulai dengan pertemanan, kami berdua lambat laun berkomitmen untuk saling mengenal satu dan lainnya. Tidak ada yang aku tutup-tutupi di hadapan Wenny. Kehidupan masa laluku yang buruk bahkan aku ceritan kepadanya.
Aku tahu dia kaget dengan kehidupan masa silamku. Aku tak menyalahkan responnya. Namun aku bersyukur kejujuran hatiku ternyata memikat hati pujaan hatiku ini.
2005, Aku dan Wenny memutuskan menikah. Kini kami dikarunai dua orang putra yang sangat luar biasa.
Aku bersyukur kepada Yesus karena selama kehidupanku, aku merasakan Tuhan begitu sabar kepadaku. Tuhan menantikanku berbalik kepada-Nya dan pada satu waktu Tuhan memang membuatku berbalik kepada-Nya.
Kebiasaan-kebiasaan lama yang kini tak lagi aku lakukan, aku percaya itu bukan karena kekuatanku. Aku percaya semua itu dapat terjadi karena kasih dan kuasa Tuhan yang bekerja di dalam hidupku. Terima kasih Yesus karena memerdekanku.  
Sumber Kesaksian :
Jawaban.com
Betco Parulian Simarmata
Read More..

Kesaksian 1 Orang ke Surga, 1000 orang ke Neraka

Posted by Doa Kristiani 0 komentar
Penglihatan Pdt. Park Yong Gyu.

Di tahun 1987, Pdt. Park telah meninggal karena tekanan darah tinggi. Tapi oleh anugrah Tuhan, hidupnya diperpanjang 20 tahun lagi. Tetapi, untuk 4 tahun pertama, dia tidak dapat berbicara karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Umurnya 50 tahun sewaktu dia kembali hidup. Selama waktu dia meninggal, TUHAN memperlihatkan kepadanya Surga dan Neraka.

Saya ingin Anda tahu jika Anda sombong dan angkuh, Anda akan mendatangkan kutukan atas dirimu. Saya memiliki jemaat besar dengan 5000 anggota tapi Tuhan merendahkan saya karena kesombongan saya. Sekarang saya takut akan Allah (Yakobus 4:6).


Saya memiliki harta kekayaan seharga 150 juta US$. Saya memiliki 5 mobil mewah. Tapi setelah peristiwa kematianku, saya memberikan semuanya. Tolonglah ingat, keselamatan tidak dapat diperoleh oleh banyaknya hartamu melainkan melalui iman. Sekarang saya memohon kepada para gembala, penatua, dan pemimpin lainnya untuk melayani para pendeta dengan segenap hati.

Dalam Desember 19, 1987, setelah saya selesai makan siang dan sementara saya sedang beristirahat, saya mulai merasakan sakit yang amat sangat, hal itu sungguh tak tertahankan sehingga saya merasa bahwa saya akan mati. Kemudian saya kehilangan kesadaran saya. Saya terbangun 4 bulan kemudian dalam kondisi yang setengah sadar, dan dokter saya mengatakan kepadaku bahwa saya sebetulnya akan mati. Seluruh bagian tubuh saya syarafnya robek sejak mengalami kelumpuhan. Dan keluargaku belum pernah mengizinkan anggota Gereja untuk membesuki saya karena kondisiku yang mengerikan. Kemudian saya meninggal.

Ketika saya meninggal, saya melihat 2 orang memasuki kamarku. Tetapi orang-orang ini masuk ke kamarku melalui dinding. Saya berteriak, “Siapa, siapa kalian!! Rumahku akan hancur bila kau begitu!!” Kemudian yang seorang berkata, “Kami adalah malaikat-malaikat yang turun dari Surga. Kami datang dari Kerajaan Allah.”Sebuah cahaya yang terang bersinar melalui para malaikat.

Malaikat yang berada di sebelah kananku memperkenalkan dirinya, “Saya berkeliling bagi Yesus dalam KerajaanNya. Yesus memanggilku dan memerintahkanku untuk turun ke bumi. Dia memerintahkanku untuk membawamu ke Surga. Kamu sudah mati. Tapi karena keluargamu menanggis dengan teramat sedih, DIA berkehendak untuk memberikanmu hidup lebih lama lagi. Tapi untuk sekarang, DIA ingin memperlihatkan padamu Surga dan Neraka. DIA akan memperlihatkannya padamu dan kamu akan menyaksikannya kepada orang-orang yang ada di bumi. Semoga jumlah orang yang berakhir di Neraka akan berkurang dan jumlah orang yang akan ke Surga menjadi bertambah karena kesaksianmu. Ini akan menjadi tugasmu. Tuhan mengintruksikan kepada kami untuk menyampaikannya kepadamu supaya jangan menunda. Jika kamu menunda, kamu tidak akan sanggup untuk mengunjungi Surga dan Neraka.”

Kemudian malaikat di sebelah kiri ku berkata, “Disaat kamu lahir dan sampai pada saat kamu meninggal, saya telah bersama-sama denganmu.” Pada saat itu, saya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh malaikat itu. Sekarang saya tahu. Dia adalah malaikat penjagaku. Jadi saya berkata, “Saya tidak dapat pergi! Saya tidak akan pergi! Saya seorang pendeta! Saya tidak dapat bertemu TUHAN dalam kondisi fisik seperti ini. Saya ingin melihat DIA dalam keadaan sehat. Saya mungkin akan menerima lebih banyak hukuman daripada pujian dari TUHAN. Saya angkuh dan sombong dan sekarang saya terkutuk dan sakit. Bagaimana mungkin saya dapat masuk ke Surga? Saya sangat takut. Kumohon kembalilah ke Surga dan mintalah kepada TUHAN untuk menyembuhkanku. Kemudian kembali dan bawa saya ke Surga melalui mimpiku. Kumohon mintalah belas kasihan untukku.”

Tapi para malaikat tidak mendengarkan argumentku. Mereka melepaskan pakaianku dan berkata bahwa pakaianku terlalu kotor untuk dikenakan ke Surga. Kemudian mereka memakaikanku pakaian putih (Zakh 3:4).

Mereka memegang tanganku dan kami terbang ke surga. Kami terbang melalui awan-awan dan saat saya melihat kebawah, saya melihat Bumi menjadi kecil. Mereka membawaku mendekat pada Jalan Emas yang tak berujung. Saya melihat sebuah sinar yang terang, terlalu terang untuk ditatap secara langsung. Saya berkata, “Darimanakah cahaya ini berasal?” “Datangnya dari Surga”, jawab malaikat.

Saya berpikir, “Wow! Besar sekali!” saya melihat sekelompok orang dalam pakaian putih terbang melaluinya. “Siapakah mereka?” Saya bertanya.

Malaikat menjawab, “Mereka adalah orang yang telah melayani Tuhan dengan setia dan percaya kepada Yesus dengan mematuhi dan mengikuti tuntunan Roh Kudus dengan segenap hati mereka. Tubuh mereka telah mati di Bumi. Mereka sekarang adalah jiwa-jiwa yang menuju Surga.”

Malaikat lain melanjutkan, “Ada 12 pintu gerbang di Surga. Ketika sebuah jiwa datang ke Surga, mereka harus masuk melalui salah satu gerbang itu.” Kami sedang berdiri di pintu Selatan tapi sudah tertutup. Sementara kami sedang menunggu, saya bertanya kepada malaikat, “Malaikat, kenapa gerbang ini tidak terbuka?”

Malaikat menjawab, “Hal itu karena kamu tidak bernyanyi lagu penyembahan Surga.” (Mzm 100:4)

Saya bertanya, “malaikat, saya sangatlah angkuh dan sombong dan sebagai hasilnya saya telah dikutuk dengan penyakit. Saya bukanlah seorang penyanyi lagu penyembahan Bumi. Bagaimana saya sanggup bernyanyi lagu penyembahan Surga ketika saya tidak pernah mendengarnya sebelumnya?”

Malaikat menjawab, “Kau benar. Tetapi kau tetap harus menyiapkan dirimu untuk menyembah. Kau adalah seorang yang angkuh tapi bersiaplah untuk bernyanyi.” Para malaikat mulai menyanyi. Saat mereka menyanyi, saya mulai turut bernyanyi bersama mereka. Hal itu kemudian menjadi sangat alamiah bagi saya, dan kami pun masuk.

Pemandangan di Surga sungguh tak tergambarkan. Saya tidak dapat menggambarkan Surga dengan bahasa bumi ku. Saya berkata, “Tuhan! Terima kasih banyak! Sekalipun, saya sangat angkuh dan sombong dan terkutuk dengan sebuah penyakit, KAU tetap membawaku ke Surga untuk melihat-lihat.”


Saya kemudian mendengar suara Allah, “Pendeta Park Yong Gyu KU yang tercinta, AKU menyambutmu. Kau telah menempuh perjalanan panjang kemari.” SuaraNYA dipenuhi oleh cinta dan kelembutan.

Saya menjawab dengan menanggis, “Tuhan...” Malaikat segera berkata, “kamu telah menjadi pendeta selama 20 tahun. Tidakkah kamu baca Alkitabmu? Tidak ada airmata di Surga. Jadi berhentilah!” Saya tidak dapat meneruskan tanggis ku (Wah 21:4).

Tuhan kemudian bertanya kepadaku 5 pertanyaan.
1. Berapa banyak waktu yang kau luangkan untuk membaca Firman (alkitab)?
2. Berapa banyak yang kau beri untuk persembahan?
3. Berapa kali kau menginjili orang?
4. Apakah kau telah memberi perpuluhan dengan benar?
5. Berapa banyak waktu yang kau habiskan di dalam doa?”

Saya tidak dapat menjawab kelima pertanyaan tersebut. Tuhan menghukumku untuk kelima pertanyaan itu.

“Setelah kamu menjadi seorang pendeta yang besar, kamu telah menjadi malas untuk berdoa. Menjadi sibuk bukanlah alasan untukKU!” Saya harus bertobat untuk hal itu kemudian. “Malaikat akan memperlihatkan padamu banyak tempat di Surga dan di Neraka. Lihatlah ke sekeliling sebanyak yang kamu harapkan. Kamu akan pergi setelah menyaksikan banyak bagian berbeda dari Surga dan Neraka.” Tetapi Tuhan tidak mengizinkanku untuk melihat wajahNYA.

Para malaikat pertama membawaku ke 3 tempat berbeda di Surga:
1. Saya melihat anak kecil tinggal bersama.
2. Tempat tinggal orang dewasa.
3. Jiwa-jiwa yang berhasil mencapai surga. Walaupun mereka berhasil masuk Surga, tetapi mereka masuk dengan perasaan malu.


Banyak orang telah bertanya kepadaku berapakah usia anak kecil tersebut. Mereka terlihat seperti anak-anak TK. Mereka bukanlah anak laki-laki kecil atau perempuan seperti yang kita ketahui berdasarkan jenis kelamin. Setiap anak memiliki malaikat bayi pelindung masing-masing.

Di Surga, kebanyakan dari jiwa-jiwa tersebut memiliki rumah mereka sendiri (Yoh 14:2). Bagaimanapun, ada beberapa yang tidak memiliki rumah. Saya akan menjelaskan ini kemudian. Lebih lanjut, anak-anak tidak memiliki rumah mereka sendiri. Saya bertanya, “Anak-anak juga adalah jiwa, mengapa mereka tidak memiliki rumah mereka sendiri?”

Malaikat menjawab, “Sama seperti manusia di Bumi membutuhkan bahan-bahan untuk membangun rumah mereka, kami yang ada di Surga pun membutuhkan bahan untuk membangun. Ketika seseorang melayani Gereja dan orang lain dengan setia seperti untuk Tuhan, maka perbuatan-perbuatan baik itu akan menjadi bahan bagi pembangunan rumah orang tersebut di Surga.

Ketika bahan-bahan disediakan, para malaikat yang ditugaskan untuk membangun rumah orang-orang kudus akan pergi mengerjakannya. Anak-anak yang masih sangat muda usianya tidak memiliki bahan-bahan untuk membangun rumah. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk menghasilkan imbalan / bahan. Inilah mengapa mereka tidak memiliki rumah.”

Saya melanjutkan dengan pertanyaanku, “Apa yang harus saya lakukan di Bumi untuk menyediakan bahan-bahan bagi rumahku?”

Malaikat menjawab, “Ada 7 hal yang harus dilakukan seseorang untuk mengumpulkan bahan-bahan bagi pembangunan rumahnya:

1. Penjumlahan dari total penyembahan dan pujian kepada Allah.
2. Waktu yang mereka luangkan untuk membaca Alkitab.
3. Waktu yang mereka luangkan untuk berdoa.
4. Waktu yang mereka luangkan untuk menginjili orang lain.
5. Persembahan seseorang kepada Allah.
6. Ketaatan mereka dalam perpuluhan kepada Allah.
7. Waktu yang mereka luangkan untuk melayani Gereja dalam segala cara.

Inilah perbuatan atau pekerjaan karena ketaatan dimana seseorang mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun rumah Surgawi mereka. Jika seseorang kurang dalam area ini, mereka tidak akan memiliki bahan untuk membangun rumah mereka.”


1. TEMPAT ANAK-ANAK
Ada banyak orang di Surga yang tidak memiliki rumah. Bahkan yang tidak memiliki rumah ternyata adalah para pendeta, penatua, majelis, pemimpin, dsb. Saya bertanya lagi karena penasaran, “Dimanakah anak-anak tinggal kemudian?”

Malaikat menjawab, “Mereka tinggal disini.”Saat saya melihat ke sekeliling, mereka berkumpul di seluruh area taman bunga. Taman bunga sangat indah dan wanginya melebihi wewangian yang ada di dunia. Pemandangannya melebihi apa yang dapat saya gambarkan.


2. TEMPAT ORANG DEWASA
Tempat kedua adalah tempat bagi orang dewasa yang setia. Ada perbedaan antara Keselamatan dan Upah. Di tempat ini ada banyak rumah (Yoh 14:2). Rumah-rumah tersebut dibangun dengan permata/mutiara dan batu-batu langka. Beberapa rumah sangat tinggi setinggi gedung pencakar langit di Bumi. Mereka yang dengan setia telah melayani Tuhan saat hidup di Bumi telah membangun rumah mereka dengan permata/mutiara dan batu-batu langka. Di tempat ini, semua orang terlihat berumur 20-30 tahun. Di sini tidak ada perbedaan kelamin pria dan wanita. Tidak ada orang sakit, tua, atau orang cacat.

Saya dulu pernah mengenal seseorang yang sudah tua, oh, Im Myung. Dia telah meninggal di umur yang ke 65th. Dia seorang yang bertubuh pendek, setinggi anak SD kelas 2. Dia telah menderita akibat penyakit langka. Tetapi, bila sudah menyangkut Alkitab, dia seorang lulusan PhD. Dia telah menulis banyak komentar. Saya bertemu dia di Surga, dan di sana tubuhnya tinggi dan tampan. Dia tidak lagi sakit tetapi sehat. Surga sungguh adalah tempat yang sangat menyenangkan! Saya penuh dengan pengharapan! Kumohon percayalah dengan apa yang saya katakan saudara-saudari terkasih!


3. ORANG-ORANG YANG DISELAMATKAN DENGAN PERASAAN MALU
Tempat ketiga adalah bagi mereka yang telah diselamatkan dengan perasaan malu (1 Kor 3:15). Desa ini sangatlah besar ukurannya, beberapa kali lebih luas dari tempat yang kedua, dimana rumah-rumahnya terbuat dari permata/mutiara dan batu-batu langka. Saya tiba di tempat ini dalam kecepatan tinggi, mengendarai kereta emas. Terletak sangat jauh dari tempat indah lainnya yang saya lihat di Surga.

Saya bertanya kepada para malaikat, “Saya melihat banyak tanah lapang dan hutan belantara. Mengapa saya tidak melihat adanya rumah?” Malaikat menjawab, “Yang kamu lihat adalah rumah.”


Saya melihat rumah flat yang besar, yang mengingatkanku akan kandang ayam raksasa atau sejenis rumah gudang. Rumah-rumah ini tidaklah gemerlap tetapi suram. Desa ini dan rumah-rumahnya adalah untuk jiwa-jiwa yang telah diselamatkan dengan perasaan malu. Ada begitu banyak rumah-rumah berukuran besar yang suram. Desa ini beberapa kali lebih besar dari tempat dimana jiwa-jiwa yang diberi upah tinggal.

Malaikat berkata, “Apakah kamu melihat 2 buah rumah yang besar itu, satu di sebelah kananmu dan satu di sebelah kirimu?” Saya menjawab, “Ya, saya melihatnya.”


Malaikat berkata dia ingin memperlihatkan kepadaku kedua rumah tersebut secara khusus. Dia berkata, “Rumah di sebelah kanan adalah untuk mereka yang merupakan pendeta di Bumi. Rumah yang di sebelah kanan adalah untuk mereka yang merupakan pemimpin di Bumi.” Saat kami tiba di depan kedua rumah tersebut, saya menyadari bahwa rumah-rumah tersebut terlihat sama. Saya agak tercengang. Ketika kami membuka pintu dan masuk, kesan pertama saya adalah, “kandang ayam.” Dan bukannya 1000 ekor ayam tinggal di kandangnya, saya melihat jiwa-jiwa. Malaikat menyuruhku untuk mengamati dengan teliti karena saya akan mengenali beberapa pendeta terkenal yang ada di sejarah. Dan benar. Saya mengenali banyak pendeta yang ada di sejarah. Saya secara khusus menyebut nama seorang pendeta dan bertanya kepada malaikat, “Saya kenal pendeta Korea itu! Saya tahu dia sangat terkenal dan pekerjaan yang telah dia lakukan untuk Tuhan. Mengapa dia ada disini? Saya tidak mengerti.”

Malaikat menjawab, “Dia tidak pernah menyediakan bahan-bahan untuk membangun rumahnya. Inilah mengapa dia tinggal di rumah susun.”

Saya bertanya kembali karena penasaran, “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Mengapa dia sama sekali tidak memiliki bahan-bahan?” Malaikat menjawab, “Sementara dia bekerja sebagai pendeta melakukan tanggungjawabnya sebagai seorang pendeta, dia menikmati pujian dari manusia. Dia senang akan penghormatan. Dia senang dilayani. Tidak ada pengorbanan dan hati hamba dalam dirinya.” Pendeta ini sangatlah dihormati di Korea dan telah menjadi sebuah icon dalam sejarah Kekristenan Korea. Tetapi dia tidak mendapat upah!


Para pendeta diluar sana, kumohon dengarkanlah! Anda harus menuntun orang bukan hanya pada pelayanan hari Minggu. Anda harus mengunjungi mereka di rumah mereka. Kau harus memelihara yang miskin, yang cacat dan yang tua. Para pendeta yang telah melayani tanpa mengorbankan hidup mereka dan senang dihormati tidak memiliki upah di Surga (Mat 23:5-12).

Setelah saya menyaksikan pemandangan ini di Surga dan setelah saya kembali ke Bumi, saya segera memberikan semua harta milik saya termasuk 5 mobil mewah saya. Hidup kita adalah untuk sementara. Dalam alkitab, rata-rata hidup ini adalah 70-80 tahun. Tetapi hanya Tuhan yang tahu kapankah seseorang akan meninggal. Setiap orang bisa meninggal sebelum berumur 70 atau 80 tahun. Saya telah memutuskan untuk memberikan semuanya, termasuk pakaian saya. Orang-orang yang telah saya lihat menerima keselamatan dengan rasa malu. Mereka adalah pendeta, majelis, gembala, dan umat percaya. Ada sejumlah besar majelis dan gembala dalam rumah yang suram ini. Tentu saja, ini lebih baik daripada di Neraka. Tetapi, kenapa ada seorang pun yang ingin masuk ke Surga dalam cara yang demikian? Saya tidak akan berakhir di tempat yang memalukan itu. Pakaian mereka bahkan tampak suram.


Apakah persyaratan bagi orang Kristen untuk memiliki rumah yang indah di Surga?
Pertama, kita harus menginjili orang sebanyak mungkin. Bagaimana caranya kita harus menginjili? Malaikat memberitahuku, “Misalkan ada seorang yang tidak mengenal Tuhan. Pada saat kau memutuskan untuk menginjili orang tersebut, bahan-bahan untuk membangun rumah mu telah disediakan. Saat kau secara tidak jemu-jemu berdoa untuk keselamatan mereka, lebih banyak lagi bahan bangunan yang disediakan. Kau harus secara menerus memeriksa keadaan mereka, mengunjungi mereka dan meneruskan penginjilanmu. Hal ini akan menambah jumlah bahan-bahan untuk membangun rumahmu. Jika seseorang berkata mereka tidak memiliki baju yang pantas untuk pergi ke gereja, maka kau harus menyediakan bagi mereka. Jika seseorang berkata dia tidak memiliki alkitab, kau harus menyediakan satu baginya. Jika seseorang berkata dia tidak memiliki kacamata untuk membaca, kau harus menyediakan bagi mereka. Kau harus menyediakan apapun juga yang kau mampu sehingga orang ini pun bisa dituntun untuk mengenal Tuhan. Mereka yang tinggal di rumah yang terbaik adalah mereka yang telah menginjili terbanyak.

Para malaikat kemudian membawa ku ke tempat dimana para orang kudus tinggal dalam rumah yang bagus. Disini adalah tempat dimana para orang kudus yang telah banyak menginjili tinggal. Rasanya seperti pusat kota Surga.

Dalam sejarah Kekristenan, ada 4 orang yang memiliki rumah terbesar dan paling indah. Para malaikat memperlihatkanku rumah seorang penginjil Amerika D.L Moody, Pendeta Inggris John Wesley, seorang penginjil Italia, dan penginjil Korea Pendeta Choi Gun Nung. Ke-4 orang ini memiliki rumah paling besar di Surga. Ke-4 orang ini telah menghabiskan seluruh hidup mereka untuk menginjili orang-orang bahkan sampai pada hari kematian mereka.

Di antara umat percaya Korea, ada seorang yang memiliki rumah yang besar. Orang ini telah membangun banyak gedung Gereja dengan seluruh hartanya. Dia telah memberikan 3000 karung beras kepada orang miskin. Dia secara rahasia telah membantu keuangan para pendeta dan pemimpin. Dia membantu membayar iuran sekolah para teologian. Dia juga telah membawa pulang seorang pendeta berumur 65 tahun ke rumahnya dan merawatnya, dimana Gerejanya sendiri telah mengusirnya keluar.


Saya mendengar seorang malaikat berteriak, “Bahannya telah datang!” Saya bertanya kepada malaikat yang berada di sebelah kanan saya mengenai bahan tersebut dan dia mengatakan kepadaku, “Bahan ini untuk penatua dari sebuah gereja kecil di suatu negara. Malah, dia menerima bahan-bahan setiap hari. Walaupun dia miskin, dia datang melayani di Gereja setiap pagi. Dia berdoa untuk 87 jemaat Gereja setiap hari. Dan setelah dia selesai berdoa, dia membersihkan gereja.”

Saya mendengar malaikat lain berteriak, “Kiriman special! Anak perempuan si penatua telah memberikan satu-satunya uang yang ia miliki kepada ibunya. Tetapi, si penatua tidak memakai uang itu untuk kepentingannya sendiri. Dia membeli 5 butir telur dan 2 pasang kaos untuk pendeta Gereja. Walaupun sepertinya halnya sebuah persembahan yang kecil, dia telah memberikan semua yang dia miliki. Ini menjadi bahan special untuk rumahnya di Surga.”

Kedua, mereka yang memiliki rumah besar adalah mereka yang telah membangun gedung gereja atau gedung lain untuk Kerajaan Allah dengan harta dan penghasilan mereka.


Di Surga, saya juga bertemu dengan seorang penatua bernama Choi. Di antara penatua dan gembala yang ada di Surga, dia memiliki rumah yang paling indah. Rumahnya lebih tinggi daripada gedung yang paling tinggi di Korea. Choi telah membangun banyak gedung Gereja di Korea dengan kekayaannya.

Saya bertanya kepada malaikat, “Bagaimana dengan rumahku? Apakah dalam proses pembangunan?”Malaikat menjawab, “Tepat sekali!” saya memohon untuk melihat rumahku. Tapi mereka mengatakan kepadaku bahwa hal tersebut tidak di izinkan. Saya terus saja memohon dan setelah tak henti-hentinya memohon, malaikat mengatakan bahwa sekarang saya telah di izinkan oleh Tuhan untuk melihatnya.

Kami memasuki kereta dan menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. Saya penuh dengan pengharapan. Saya bertanya, “Dimanakah rumahku?” Malaikat menjawab, “Ada di sana!” Tapi yang terlihat hanyalah sebuah fondasi, hanya siap untuk pembangunan. Saya menanggis, “Mengapa kau melakukan hal ini padaku? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin rumahku berada dalam area pembangunan? Setelah selamat dari perang Korea, saya menjual rumahku untuk membangun gedung Gereja. Gereja ini bertumbuh hingga 5000 jemaat. Saya menulis banyak buku yang di ilhamkan oleh Roh Kudus. Salah satu buku menjadi best seller. Dari hasil penjualan buku, saya membangun sekolah Kristen. Sekolah telah melahirkan 240 pendeta. Saat masih menjadi Dekan, saya telah memberikan lebih dari 400 beasiswa kepada lebih dari 400 anak-anak miskin. Saya telah membangun rumah bagi janda-janda untuk tinggal. Semuanya ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa rumahku berada dalam area pembangunan saja? Saya sangat frustasi!”


Malaikat menjawab, “Kamu tidak pantas untuk tinggal dalam rumah yang indah di Surga karena kamu telah menerima penghormatan dari manusia berulang kali. Setiap kali telah membangun atau melakukan sesuatu yang baik, kamu dipuji oleh manusia. Kamu bahkan menerima pujian dari koran setempat. Karena itu, semua pekerjaanmu menjadi sia-sia.” (Mat 6:1).

Saya melihat kepada rumahku di area pembangunan. Lokasinya terletak di tengah-tengah 3 rumah lainnya. Hanya ada 3 lantai. Rumah tersebut memiliki banyak kamar kecil di 2 lantai pertama. Saya bertanya kepada malaikat, “mengapa saya memiliki kamar-kamar kecil?” Malaikat menjawab, “Kamar-kamar ini di peruntukkan bagi putra dan putrimu.”

“Saya hanya mempunyai 4 orang anak,” Saya menjawab. Malaikat merespon, “Bukan, kamar-kamar tersebut bukan untuk anak-anak duniawimu, tetapi untuk mereka yang telah kamu injili dan selamat.” Saya suka itu! Saya bertanya, “Dimanakah kamar tidurku?” malaikat berkata kamarku berada di atas atap. Hal itu mengangguku. Kamarku bahkan belum selesai. Dengan nada marah saya berkata, “Ruangannya sangat kecil! Mengapa begitu sulit untuk diselesaikan?!” Malaikat menjawab, “Kamu bahkan belum meninggal. Kami tidak bisa menyelesaikan rumah atau kamarmu karena kami tidak tahu bila ada bahan-bahan yang akan ditambahkan kemudian. Apakah kamu mengerti?”


Ketika kami memasuki kamarku, saya melihat 2 sertifikat di dinding, kemudian saya membacanya. Sertifikat pertama menggambarkan saya saat berumur 18 tahun tinggal di rumah yatim piatu. Pada hari Natal, saya dalam perjalanan pulang ke ibadah pagi. Saya telah melihat seorang laki-laki tua tiduran di jalanan. Saya melepaskan jaket saya dan memberikannya kepadanya. Tindakan itu telah memberi saya upah di Surga. Sertifikat yang kedua menggambarkan kejadian yang sama tetapi untuk membelikan makanan kecil bagi seorang pria tua. Bukan masalah seberapa banyak uangnya. Tindakan tersebut harus disertai dengan hati yang tulus.


Kami meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke tempat semula. Dalam perjalanan, salah seorang dari malaikat bertanya, “Apakah kamu sedih? Saya akan memberitahu kamu bagaimana caranya untuk membangun rumah yang indah. Tuhan berkata saat kamu kembali ke Bumi, kamu harus pergi memberitahukan orang-orang tentang Surga dan Neraka seperti yang telah kamu saksikan.
Kedua, Tuhan menginginkan kamu untuk membangun sebuah tempat bagi para pendeta tua wanita dan penginjil yang tidak memiliki tempat untuk bernaung. Jika kamu setia melakukan semuanya ini, kamu akan memiliki rumah yang indah.”


Neraka
Kedua malaikat tersebut mengawalku ke Neraka. Mereka berkata, “Sekarang kamu akan mengunjungi Neraka.” Anda tidak bisa membayangkan betapa luasnya Neraka. Saya terus berteriak, “Sangat besar! Sangat besar!” disini adalah tempat dimana jiwa-jiwa yang terkutuk dan menerima penghukuman kekal berada. Rasanya seperti Neraka 1000 kali lebih luas dari Bumi. Setengah dari Neraka berwarna merah dan setengahnya lagi berwarna hitam gelap. Saya bertanya kepada malaikat, “Mengapa bagian ini berwarna merah?”


Malaikat menjawab, “Tidakkah kamu tahu? Itu adalah bara sulfur. Setengahnya lagi adalah kegelapan. Ketika manusia berdosa dan berakhir disini, mereka akan disiksa dari kedua sisi..... Ada beragam jenis Gereja di Bumi dan banyak Gereja yang ibadahnya dihadiri banyak orang. Tetapi, kebanyakan dari mereka bukan orang Kristen sejati. Mereka hanyalah pengunjung. Gereja yang benar akan percaya adanya Surga dan Neraka. Hidup banyak orang Kristen berada dalam bahaya karena mereka tidak percaya adanya Surga dan Neraka. Ketika seorang jiwa masuk ke Surga, 1000 jiwa terkutuk masuk ke Neraka. Perbandingan jumlah Surga dan Neraka adalah 1:1000.” (Mat 7:14).

Saya seorang pendeta Presbyterian dan seorang pembicara terkenal. Saya lulusan sekolah teologi terbesar di Korea. Saya tidak pernah percaya kisah Surga dan Neraka. Tetapi sekarang, saya salah seorang yang menulis pengalaman serupa untuk bersaksi kepada yang lain. Walaupun Anda yakin telah menjadi seorang Kristen, jika Anda menjalani kehidupan Anda mengikuti kehendak setan, Anda akan berakhir di Neraka!

Tempat pertama yang saya lihat adalah bara sulfur. Anda bahkan tak bisa bayangkan betapa panasnya api Neraka itu. Tidak ada seorang pun yang dapat menahan panasnya itu.


Orang-orang di Neraka mengungkapkan 3 pernyataan:
1. Terlalu panas dan mereka merasa sekarat. (Luk 16:24)
2. Mereka merasa haus dan merasa sekarat.
3. Anda akan mendengar banyak permintaan akan air. (Zakh 9:11)

Sampai kekekalan! Banyak orang berkata kita bebas di dalam Kristus dan mereka menjalani hidup mereka seperti yang mereka inginkan. Saya bertanya kepada malaikat, “mereka yang berada di sini, apa yang telah mereka lakukan?” Malaikat menjawab, “Grup pertama adalah orang-orang yang tidak percaya.” Mereka yang tidak menginjili anggota keluarganya harus bertobat!

Malaikat kemudian meneruskan, “Grup kedua adalah mereka yang percaya kepada Yesus, tetapi tidak bertobat dari dosa mereka.” Kita harus bertobat dari dosa kita dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Kita tidak boleh berdosa. Hanyalah ucapan mulut bukanlah sebuah pertobatan. Dengan hati yang hancur dan tulus, kita harus bertobat!


Kristen di Neraka
Saya kemudian melihat banyak pendeta, penatua, dan majelis di Neraka. Saya bertanya kepada malaikat, “Saya mengenal mereka. Mereka telah melayani Tuhan dengan setia saat di Bumi. Mereka telah meninggal beberapa waktu yang lalu. Kami semua telah berpikir bahwa mereka ada di Surga bersama Tuhan. Tetapi sekarang, saya melihat mereka di Neraka dan mereka menanggis kepanasan! Mengapa mereka ada disini?” Ada begitu banyak pendeta, penatua, majelis dan umat percaya.


Malaikat menjawab, “Pendeta Park Yong Gyu, seseorang bisa terlihat sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati tetapi Tuhanlah yang tahu hati seseorang. Mereka di sini karena mereka tidak menjaga hari Minggu tetap kudus. Kenyataannya, mereka suka menghasilkan uang pada hari Minggu. (Yer 17:27). Banyak majelis dan penatua yangmengkritik khotbah pendeta mereka. (Mzm 105:5 ; Bil 12: 8-9).Mereka tidak memberi perpuluhan dengan benar ( mal 3 : 9 ) .Mereka tidak berdoa. Banyak dari para penatua dan majelis ini telah menyerang pendeta mereka dan melanggar otoritas mereka. Mereka telah mencampuri tugas dan urusan pendeta mereka. (Bil 16).Mereka tidak menginjili orang sama sekali.(Yeh 33:6). Saat mereka sedang sekarat, mereka pikir mereka telah melakukan pekerjaan yang baik sehingga mereka tidak bertobat. Inilah mengapa dilempar ke dalam api Neraka.”


Saya kemudian melihat seorang Raja dan seorang Pangeran yang pertama kali menganiaya orang-orang Kristen di Korea. Mereka ditempatkan di tengah, yang merupakan tempat terpanas. Saya juga melihat Hitler, Stalin, Mao Zhe Dong, dan seorang pendeta terkenal dari Korea Utara bernama Pendeta Kang, dan seorang pahlawan Jepang yang terkenal, dan banyak lagi.

Kemudian kami tiba pada bagian yang paling gelap, terlalu gelap untuk melihat langkah-langkah kami sekalipun. Saya berteriak, “Malaikat! Malaikat! Sangatlah gelap! Bagaimana saya dapat melihat?” Malaikat menepuk pundak saya dan berkata, “Tunggulah sejenak.”

Dalam beberapa saat, saya dapat melihat sejumlah besar orang yang telanjang. Di seluruh tubuh mereka ada begitu banyak serangga yang merayap. Tak 1 inchi pun yang bebas karena serangga itu memenuhi tubuh mereka. Orang yang telanjang itu berusaha mengibaskan serangga-serangga hingga mengertakan gigi mereka. “Apa yang telah mereka lakukan saat mereka hidup di Bumi?”

“Mereka adalah orang-orang yang telah mengkritik dan menggosipkan orang lain dibelakang mereka. Mereka tidak berhati-hati dengan apa yang mereka ucapkan mengenai orang lain.” (Mat 5:22).


Saya melihat para setan menusuk dan menikam perut orang-orang dengan tombak. Teriakan mereka sungguh memilukan. Saya bertanya kepada pengawalku, “Malaikat, apa yang telah orang ini lakukan selama mereka hidup di Bumi?”

“Orang-orang ini memiliki pekerjaan, rumah, dan keluarga tetapi mereka tidak memberi kepada Tuhan. Mereka tidak membantu orang-orang miskin, Gereja mereka, atau tujuan ilahi lainnya. Mereka sangatlah pelit dan rakus. Walaupun mereka bertemu dengan orang miskin, mereka mengabaikan orang miskin tersebut dan tidak perduli. Mereka hanya perduli pada diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Mereka berpakaian sangat bagus, berkecukupan dan memiliki kehidupan yang nyaman. Inilah mengapa perut mereka ditusuk karena perut mereka penuh dengan keserakahan.” (Ams 28:27).

Hal itu adalah pemandangan yang menakutkan. Setelah menyaksikan pemandangan demikian, ketika saya kembali ke Bumi, saya memberikan semua uang dan harta kepada yang lain. Keselamatan tidak bisa diperoleh dengan uang atau harta. Tetapi dengan iman. Neraka adalah tempat yang tidak tertahankan dan sengsara. Hal itu adalah penyiksaan kekal!


Saya juga melihat orang yang kepalanya di penggal dengan kapak yang sangat tajam. Saya bertanya kepada malaikat, “Apakah yang telah dilakukan orang-orang ini hingga mereka mendapat siksaan yang mengerikan?” Malaikat menjawab, “Otak mereka telah diberikan Tuhan untuk memikirkan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Tetapi orang-orang ini telah memikirkan hal-hal yang kotor. Mereka memikirkan hal-hal yang penuh nafsu.” (Mat 5:28).

Berikutnya saya melihat orang-orang ditikam dan dipotong hingga beberapa bagian. Pemandangan itu sangat mengerikan. Saya bertanya, “Bagaimana dengan orang-orang ini? Apakah yang telah mereka lakukan hingga mereka disiksa seperti demikian?” Malaikat menjawab, “Mereka adalah penatua dan majelis yang tidak melayani Gereja mereka. Bahkan, mereka tidak mau bekerja atau melayani! Satu-satunya hal yang mereka sukai adalah untuk menerima dan menerima dari para kawanan.” (Zakh 11:17 ; Hos 6:5).

Saya melihat para penatua, majelis, dan juga umat percaya lainnya disiksa oleh para setan. Para setan membuat lubang di lidah tiap-tiap orang dan menaruh kawat panjang kemudian menarik mereka dengan kawat yang saling terhubung itu. Saya bertanya lagi, “Apa yang telah mereka lakukan di Bumi?”

Malaikat menjawab, “Mereka telah melakukan 4 jenis dosa yang berbeda:

1. Mereka telah mengkritik pendeta mereka. Mereka akan mengatakan hal-hal yang negatif mengenai pendeta mereka. Mereka bergosip dan menertawakan pendeta mereka.” (Yak 3:6 ; Mat 12:37).


Saya memohon kepada mereka yang telah melakukan dosa yang demikian, BERTOBAT! BERTOBAT!!

Malaikat melanjutkan,

2. Mereka menghina Gereja dengan ucapan mereka.
3. Mereka telah melukai orang-orang Kristen lainnya sampai pada titik bahkan mereka yang setia pun terluka dan mereka berhenti mengunjungi Gereja dan bahkan menyebabkan beberapa dari mereka berhenti percaya. Mereka melakukan semua hal yang mereka bisa untuk menghentikan orang-orang Kristen yang setia dari melakukan pekerjaan Allah. Orang-orang jahat ini menyebabkan banyak orang setia tersandung.

4. mereka adalah suami istri yang minum alkohol dan bertindak kejam kepada anggota keluarga mereka.


Saya melihat para setan menusuk pria dan wanita di perut mereka dengan paku yang sangat tajam dan besar. Saya bertanya, “Apa yang telah mereka lakukan?” malaikat menjawab, “Mereka adalah pria dan wanita yang telah hidup bersama tanpa komitmen pernikahan. Mereka bersalah karena aborsi ketika mereka menjadi hamil. Mereka tidak pernah bertobat!”

Saya melihat grup orang lainnya. Para setan mengiris bibir mereka seperti mengiris tipis daging atau sayuran. Saya bertanya, “Mengapa orang-orang ini disiksa dengan cara demikian?” Malaikat menjawab, “Mereka adalah putra, putri, menantu pria dan menantu wanita yang telah membantah orangtua mereka. Apa yang seharusnya mereka lakukan hanyalah mengatakan “saya minta maaf” bukannya membuat keadaan menjadi bertambah buruk. Banyak dari mereka telah menggunakan kata-kata yang kasar. Mereka telah menyerang orangtua mereka dengan kata-kata yang keras. Mereka memberontak, itulah mengapa bibir mereka diiris.”

Saudara, kita suatu hari akan meninggal, tapi kita tidak tahu kapankah hal itu akan terjadi. Ku mohon bersiap-siap lah. Menjadi siap untuk pergi ke Surga. Kapankah kita pergi tidaklah penting. Tolong ampunilah setiap orang sebanyak mungkin sebanyak yang diperlukan. Bertobat dan bertobat dan lakukanlah hal tersebut sepanjang hari bila memang perlu.

Saudaraku yang terkasih, saya biasanya mengabaikan kesaksian yang demikian. Saya seorang pendeta Presbyterian kuno yang mengabaikan hal-hal yang demikian. Tetapi sekarang, saya harus menyaksikan dan bersaksi kepadamu apa yang telah saya lihat. Tolong janganlah ragu untuk hidup kudus. Tolong hindari siksaan dan penghakiman yang menyengsarakan ini. Jadilah selamat! Janganlah hidup secara duniawi tetapi serahkanlah dirimu bagi Kerajaan Allah. Tolong berdoalah bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Menginjili dan berbuahlah. Tolong berdoalah di subuh hari dan jagalah hari Minggu tetap kudus. Tolong berilah kepada Tuhan perpuluhan dengan benar. Kumpulkan upahmu di Surga dan bukan di Bumi ini. Saya berdoa dan memberkatimu dalam nama Tuhan Yesus yang berkuasa!


Read More..

Lagu Rohani

Kidung Jemaat

Nama Bayi Kristen